Ambruknya Gedung Hogwan Brebes: Alarm untuk Teknologi Konstruksi Lama

Business74 Views

Kejadian ambruknya gedung Hogwan di Brebes baru-baru ini bikin banyak orang kaget. Gedung yang dulunya dipakai untuk bulu tangkis itu roboh dan menewaskan tiga orang. Dari sisi teknologi, insiden ini nunjukin betapa pentingnya pemantauan struktur bangunan yang sudah tua.

Bangunan era Belanda seperti ini biasanya pakai material dan metode konstruksi yang beda dari standar sekarang. Tanpa sensor atau sistem monitoring modern, kerusakan kecil bisa lolos dari deteksi sampai akhirnya fatal. Di era digital, seharusnya ada teknologi seperti IoT untuk cek getaran atau retakan secara real-time.

Korban yang ditemukan tim gabungan termasuk dua anak yang tertimpa saat tidur. Ini mengingatkan kita bahwa gedung publik butuh upgrade teknologi keselamatan, bukan cuma perbaikan fisik biasa. Banyak gedung tua di Indonesia masih minim penerapan sistem deteksi dini.

Dari sisi analisis, pertama, penerapan teknologi structural health monitoring bisa bantu cegah kejadian serupa di masa depan dengan memberikan data akurat sebelum roboh. Kedua, integrasi data geospasial dan AI untuk memetakan bangunan berisiko tinggi di daerah rawan bisa jadi langkah preventif yang lebih efektif daripada inspeksi manual saja.

Masyarakat lokal di Brebes tentu berharap ada perbaikan cepat. Tapi yang lebih penting adalah perubahan mindset soal investasi teknologi di sektor konstruksi. Banyak proyek renovasi masih fokus ke estetika, padahal sensor dan software monitoring jauh lebih krusial untuk keselamatan jangka panjang.

Kalau teknologi ini diadopsi lebih luas, risiko ambruk bisa ditekan signifikan. Pemerintah daerah dan pengelola gedung perlu mulai pikirkan ini sebagai prioritas, bukan sekadar opsi tambahan.